In cell biology, the nucleus is a membrane enclosed organelle found in eukaryotic cells. It contains most of the cell’s genetic material, organized as multiple long linear DNA molecules in complex with a large variety of proteins, such as histones, to form chromosomes. The genes within these chromosomes are the cell’s nuclear genome. The function of the nucleus is to maintain the integrity of these genes and to control the activities of the cell by regulating gene expression — the nucleus is therefore the control center of the cell. The main structures making up the nucleus are the nuclear envelope, a double membrane that encloses the entire organelle and separates its contents from the cellular cytoplasm, and the nuclear lamina, a meshwork within the nucleus that adds mechanical support, much like the cytoskeleton supports the cell as a whole. Because the nuclear membrane is impermeable to most molecules, nuclear pores are required to allow movement of molecules across the envelope. These pores cross both of the membranes, providing a channel that allows free movement of small molecules and ions. The movement of larger molecules such as proteins is carefully controlled, and requires active transport regulated by carrier proteins. Nuclear transport is crucial to cell function, as movement through the pores is required for both gene expression and chromosomal maintenance.
Although the interior of the nucleus does not contain any membrane-bound subcompartments, its contents are not uniform, and a number of subnuclear bodies exist, made up of unique proteins, RNA molecules, and particular parts of the chromosomes. The best known of these is the nucleolus, which is mainly involved in the assembly of ribosomes. After being produced in the nucleolus, ribosomes are exported to the cytoplasm where they translate mRNA.  [x]

In cell biology, the nucleus is a membrane enclosed organelle found in eukaryotic cells. It contains most of the cell’s genetic material, organized as multiple long linear DNA molecules in complex with a large variety of proteins, such as histones, to form chromosomes. The genes within these chromosomes are the cell’s nuclear genome. The function of the nucleus is to maintain the integrity of these genes and to control the activities of the cell by regulating gene expression — the nucleus is therefore the control center of the cell. The main structures making up the nucleus are the nuclear envelope, a double membrane that encloses the entire organelle and separates its contents from the cellular cytoplasm, and the nuclear lamina, a meshwork within the nucleus that adds mechanical support, much like the cytoskeleton supports the cell as a whole. Because the nuclear membrane is impermeable to most molecules, nuclear pores are required to allow movement of molecules across the envelope. These pores cross both of the membranes, providing a channel that allows free movement of small molecules and ions. The movement of larger molecules such as proteins is carefully controlled, and requires active transport regulated by carrier proteins. Nuclear transport is crucial to cell function, as movement through the pores is required for both gene expression and chromosomal maintenance.

Although the interior of the nucleus does not contain any membrane-bound subcompartments, its contents are not uniform, and a number of subnuclear bodies exist, made up of unique proteins, RNA molecules, and particular parts of the chromosomes. The best known of these is the nucleolus, which is mainly involved in the assembly of ribosomes. After being produced in the nucleolus, ribosomes are exported to the cytoplasm where they translate mRNA.  [x]

Reblogged from lonely finch

tanpajudul

#Aku berdiri di antara dedaunan usang ditemani satu kabar tentang dua filsuf yang mati digilas zaman
#Langit sore baru saja dinyalahkan, lalu seekor anjing tidur di atas keset kamar, aku bakar ribuan dendam dan kau pun datang
#Lihat di jendela sana, ada ranting yang menusuk unggas, azan terdengar, obor-obor berbisik kabar tentang malaikat yang culas
#Lalu luka itu mengingatkan aku pada syair tentang pujangga yang saling menikam dan terkubur bersama kekosongan malam
#Tiba-tiba aku lupa bagaimana menangisi ibu, bagaimana mengusap luka, bagaimana menjadi manusia

11 April 2013

Reblogged from KARMA
Reblogged from Rebel

Maharani Shima

Shima adalah ratu penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di pantai utara Jawa Tengah sekitar tahun 674 Masehi. Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur.

Tradisi mengisahkan seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota Kalingga. Raja asing ini melakukan hal itu karena ia mendengar kabar tentang kejujuran rakyat Kalingga dan berniat menguji kebenaran kabar itu. Tidak seorangpun berani menyentuh kantung yang bukan miliknya itu, hingga suatu hari tiga tahun kemudian, seorang putra Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya.

Mulanya Sang Ratu menjatuhkan hukuman mati untuk putranya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran.

Menurut Carita Parahyangan Cicit Ratu Shima adalah Sanjaya yang menjadi Raja Galuh, dan menurut Prasasti Canggal adalah pendiri Kerajaan Medang di Mataram. Berdasarkan Naskah Wangsakerta disebutkan bahwa Ratu Shima berbesan dengan penguasa terakhir Tarumanegara.


Menentukan Arah

Menentukan Arah

Reblogged from KARMA

tenang dan menenangkan

tenang dan menenangkan


oasisfragmentaris

oasisfragmentaris


all around the world!

all around the world!


bocah ingusan

bocah ingusan

Reblogged from KARMA

Sajak Sebatang LisongWS. Rendra

Menghisap sebatang lisongmelihat Indonesia Rayamendengar 130 juta rakyatdan di langitdua tiga cukong mengangkangberak di atas kepala merekamatahari terbitfajar tibadan aku melihat delapan juta kanak-kanaktanpa pendidikanaku bertanyatetapi pertanyaan-pertanyaankumembentur meja kekuasaan yang macetdan papantulis-papantulis para pendidikyang terlepas dari persoalan kehidupandelapan juta kanak-kanakmenghadapi satu jalan panjangtanpa pilihantanpa pepohonantanpa dangau persinggahantanpa ada bayangan ujungnyamenghisap udarayang disemprot deodorantaku melihat sarjana - sarjana menganggurberpeluh di jalan rayaaku melihat wanita buntingantri uang pensiunandan di langitpara teknokrat berkata:bahwa bangsa kita adalah malasbahwa bangsa kita besti dibangunmesti di up-gradedisesuaikan dengan teknologi yang diimporgunung-gunung menjulanglangit pesta warna di dalam senjakaladan aku melihatprotes-protes yang terpendamterhimpit di dalam tilamaku bertanyatetapi pertanyaankumembentur jidat penyair – penyair salonyang bersajak tentang anggur dan rembulansementara ketidak adilan terjadi disampingnyadan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikantermangu – mangu di kaki dewi kesenianbunga-bunga bangsa tahun depanberkunang – kunang pandang matanyadi bawah iklan berlampu neonberjuta – juta harapan ibu dan bapakmenjadi gemalau suara yang kacaumenjadi karang di bawah muka samodrakita mesti membeli rumus – rumus asingdiktat – diktat hanya boleh memberi metodetetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaankita mesti keluar ke jalan rayakeluar ke desa – desamencatat sendiri semua gejaladan menghayati persoalan yang nyatainilah sajakkupamphlet masa daruratapakah artinya kesenianbila terpisah dari derita lingkunganapakah artinya berpikirbila terpisah dari masalah kehidupan

Sajak Sebatang Lisong
WS. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya

aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan
dan di langit
para teknokrat berkata:
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa kita besti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung-gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes-protes yang terpendam
terhimpit di dalam tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenian
bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra

kita mesti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamphlet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
— Ws. rendra
Ws. Rendra (7-November 1935- 6 Agustus 2009)

Ws. Rendra (7-November 1935- 6 Agustus 2009)


bisu, tuli, buta

bisu, tuli, buta

Reblogged from KARMA

sebuah perspektif

sebuah perspektif

Reblogged from KARMA